Jika spesifikasi mesin Anda dibawah Celeron M 1.5 GHz(1 MB L2 cache), ~768MB RAM, atau Anda bukan seorang gamer atau maniak animasi desktop, maka ada baiknya Anda mempertimbangkan tips berikut:
1. Klik kanan "My Computer"->"Properties"
2. Klik tab "Advanced"
3. Klik tombol "Settings" pada panel "Performance"
4. Klik radiobutton "Custom" pada tab "Visual Effects"
5. Hilangkan semua centang pada checkboxes kecuali checkbox "Smooth edges of screen fonts".
--Trust me keep this one checked!
6. Klik tombol "OK"
Rabu, 23 Juli 2008
Jumat, 11 Juli 2008
It's all about the money, aint it?
Orang miskin dilarang kuliah di UI
Slogan yg cukup populer ditelinga warga UI dan seluruh rakyat negeri ini sejak keruntuhan rezim ORBA dan dimulainya era BHMN UI. Dengan makin banyaknya lapangan parkir (yang dibuka setelah terlebih dahulu memperkosa hutan-hutan mini) dan mobil plat hitam yg hilir mudik keluar-masuk kampus, semakin memperkuat persepsi bahwa orang miskin memang spesies yg terancam punah di UI.
Mahasiswa dianjurkan tidak magang di firma yg kurang bona fide
Perbincangan saya dengan seorang teman beberapa hari yg lalu menguak fakta yg cukup mengejutkan ini. Demi nama besar almamater(fakultas) katanya.
Memang apa salahnya magang nggak dibayar?
Hanya karena bagi sebagian orang firma tersebut kurang bona fide apakah berarti selamanya mereka harus tetap kurang bona fide? Karena calon pekerja magang milih-milih untuk memberikan sumbangsih sesuai core competence-nya?
What happened to Pengabdian Masyarakat?!
Masuk harus tajir, mau lulus dan setelah lulus harus nge-geng sama yg tajir juga?
Pantas saja kaum proletar disini gokil semua!
Slogan yg cukup populer ditelinga warga UI dan seluruh rakyat negeri ini sejak keruntuhan rezim ORBA dan dimulainya era BHMN UI. Dengan makin banyaknya lapangan parkir (yang dibuka setelah terlebih dahulu memperkosa hutan-hutan mini) dan mobil plat hitam yg hilir mudik keluar-masuk kampus, semakin memperkuat persepsi bahwa orang miskin memang spesies yg terancam punah di UI.
Mahasiswa dianjurkan tidak magang di firma yg kurang bona fide
Perbincangan saya dengan seorang teman beberapa hari yg lalu menguak fakta yg cukup mengejutkan ini. Demi nama besar almamater(fakultas) katanya.
Memang apa salahnya magang nggak dibayar?
Hanya karena bagi sebagian orang firma tersebut kurang bona fide apakah berarti selamanya mereka harus tetap kurang bona fide? Karena calon pekerja magang milih-milih untuk memberikan sumbangsih sesuai core competence-nya?
What happened to Pengabdian Masyarakat?!
Masuk harus tajir, mau lulus dan setelah lulus harus nge-geng sama yg tajir juga?
Pantas saja kaum proletar disini gokil semua!
Rabu, 09 Juli 2008
Tenang
Alangkah tenangnya diperpustakaan hari ini, sampai detik ini...there's no soul other than mine.
Ibu Ati dkk jg ga keliatan. Pada kemana ya?
Access point-nya udah idup lagi...jangan mati-mati lagi dong!
Lebih enak hotspot-an di perpus yg tenang ini daripada di lab 1102 yg banyak (oknum)anak dua ribu*peeep* yg rusuh, gaduh dan assholes...serasa ini fakultas punya mereka aja
Tolong ya, saya sebagai senior...
Tenang..tenang
Ibu Ati dkk jg ga keliatan. Pada kemana ya?
Access point-nya udah idup lagi...jangan mati-mati lagi dong!
Lebih enak hotspot-an di perpus yg tenang ini daripada di lab 1102 yg banyak (oknum)anak dua ribu*peeep* yg rusuh, gaduh dan assholes...serasa ini fakultas punya mereka aja
Tolong ya, saya sebagai senior...
Tenang..tenang
Senin, 07 Juli 2008
Memoir
Baru selesai baca "Eaten By The Japanese". Ditulis oleh Richard Crasta diadaptasi dari memoir ayahnya, John Baptist Crasta, POW Jepang pada Perang Dunia 2.
Saya tidak akan review bukunya disini sekarang. Mungkin suatu saat nanti(saya juga belum selesai mereview Hiten Mitsurugi Ryu...maaf ya). Lagian bukunya tipis kok, jadi kalau direview-pun juga rasanya kurang bermanfaat. Mending (cari dan)baca sendiri aja ya.
Anyway, satu hal yg menarik adalah si John Crasta ini sempet-sempetnya nulis memoir disela-sela 'rutinitas' kesehariannya sebagai POW Jepang. Disela-sela kerja paksa, pukulan, tendangan ludahan, cacian dan segala macam bentuk siksaan fisik dan mental yg kalo dibayangin pasti bikin manusia normal sakit perut dan pingin nangis.
Entah dia nulis pake apa dan dimana. Cuma ngebayangin aja betapa kerennya kalo bisa bertualang pada satu periode tertentu dalam hidup, lalu mencatatkan apa yg dilihat dan dirasa pada beberapa carik kertas walau dengan alat tulis arang kayu sekalipun.
Waktu kecil saya sering nonton serial TV "The Young Indiana Jones". Nah si Indy itu kan selalu bawa buku catatan kecil dalam setiap petualangannya. Biar itu buku udah kuning warnanya, tapi tetap saja buku kecil itu yang selalu jadi perhatian saya setiap nonton film itu.
Ada lagi kisah tentang memoir yg ditulis oleh Jakow Trachtenberg, seorang POW Jerman pada Perang Dunia 1. Dia nulis memoir waktu dipenjara. Katanya sih untuk menjaga dirinya biar tetap waras(belakangan isi memoirnya disempurnakan menjadi sistem berhitung Trachtenberg).
Lalu juga ada cerita fiktif Kapten Nathan Algren dalam film "The Last Samurai" yang juga selalu bawa-bawa buku catatan kesetiap tempat yg dikunjunginya.
Intinya nulis memoir atau buku harian atau apalah namanya, itu keren abis. Yang saya maksud disini buku dalam bentuk lembaran-lembaran kertas ya. Apalagi kalau suatu saat diterbitkan jadi buku oleh anak keturunan kita. Mirip2 blog lah. Kalo blog saya ini namanya "Life journey of a future legend". Sukur-sukur 100 atau 200 tahun lagi diterbitkan jadi buku oleh keturunan saya. Mudah-mudahan blogger.com panjang umur...
Saya ngga punya buku harian. Soalnya susah nyari buku catatan yg polos. Zaman sekarang pasti ada hello kitty-nya lah, warnanya pink lah, tanggalan lah, alamat lah...
Ada yg tau dimana saya bisa mendapatkan buku catatan seperti di film Indiana Jones?
Saya tidak akan review bukunya disini sekarang. Mungkin suatu saat nanti(saya juga belum selesai mereview Hiten Mitsurugi Ryu...maaf ya). Lagian bukunya tipis kok, jadi kalau direview-pun juga rasanya kurang bermanfaat. Mending (cari dan)baca sendiri aja ya.
Anyway, satu hal yg menarik adalah si John Crasta ini sempet-sempetnya nulis memoir disela-sela 'rutinitas' kesehariannya sebagai POW Jepang. Disela-sela kerja paksa, pukulan, tendangan ludahan, cacian dan segala macam bentuk siksaan fisik dan mental yg kalo dibayangin pasti bikin manusia normal sakit perut dan pingin nangis.
Entah dia nulis pake apa dan dimana. Cuma ngebayangin aja betapa kerennya kalo bisa bertualang pada satu periode tertentu dalam hidup, lalu mencatatkan apa yg dilihat dan dirasa pada beberapa carik kertas walau dengan alat tulis arang kayu sekalipun.
Waktu kecil saya sering nonton serial TV "The Young Indiana Jones". Nah si Indy itu kan selalu bawa buku catatan kecil dalam setiap petualangannya. Biar itu buku udah kuning warnanya, tapi tetap saja buku kecil itu yang selalu jadi perhatian saya setiap nonton film itu.
Ada lagi kisah tentang memoir yg ditulis oleh Jakow Trachtenberg, seorang POW Jerman pada Perang Dunia 1. Dia nulis memoir waktu dipenjara. Katanya sih untuk menjaga dirinya biar tetap waras(belakangan isi memoirnya disempurnakan menjadi sistem berhitung Trachtenberg).
Lalu juga ada cerita fiktif Kapten Nathan Algren dalam film "The Last Samurai" yang juga selalu bawa-bawa buku catatan kesetiap tempat yg dikunjunginya.
Intinya nulis memoir atau buku harian atau apalah namanya, itu keren abis. Yang saya maksud disini buku dalam bentuk lembaran-lembaran kertas ya. Apalagi kalau suatu saat diterbitkan jadi buku oleh anak keturunan kita. Mirip2 blog lah. Kalo blog saya ini namanya "Life journey of a future legend". Sukur-sukur 100 atau 200 tahun lagi diterbitkan jadi buku oleh keturunan saya. Mudah-mudahan blogger.com panjang umur...
Saya ngga punya buku harian. Soalnya susah nyari buku catatan yg polos. Zaman sekarang pasti ada hello kitty-nya lah, warnanya pink lah, tanggalan lah, alamat lah...
Ada yg tau dimana saya bisa mendapatkan buku catatan seperti di film Indiana Jones?
Rabu, 02 Juli 2008
Langgan:
Entri (Atom)